Sub Menu

Welcome

Selamat datang di Coretan YOKE ASTRIANI - saya senang Anda berada di sini, dan berharap Anda sering datang kembali.
Info

SELAMAT DATANG

Selamat datang di Coretan YOKE ASTRIANI - saya senang Anda berada di sini, dan berharap Anda sering datang kembali. Silakan Berlama - Lama di sini dan membaca lebih lanjut artikel-artikel yang saya susun. Ada banyak hal tentang saya, Anda mungkin akan menemukan sesuatu yang menarik

Sekilas Tentang 1701

Nama saya YOKE ASTRIANI, Saya Bukan Seorang Blogger, Desainer atau Apapun Tapi Saya Hanya Seseorang Yang Ingin Selalu Belajar dan Ingin Tahu Sesuatu Yang Baru...Terimakasih juga kepada DIAN BUDIANA yang telah mengajari saya membuat blog ini sehingga saya bisa sampai disini...

RESENSI BUKU NON FIKSI

Judul Buku       : Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Penulis             : Drs. Slameto

Penerbit           : PT. Rineka Cipta

Tahun Terbit    : 1995

Tebal Buku      : 195

ISBN               : 979-518-166-1

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan  tingkah laku dalam belajar dapat terjadi secara sadar, bersifat kontinu dan fungsional, bersifat positif dan aktif, perubahan dalam belajar juga harus memiliki tujuan dan terarah.

            Jenis-Jenis belajar yaitu : Belajar Bagian, Belajar dengan wawasan, belajar diskriminatif, belajar dengan global, belajar instrumental, belajar intensional, belajar mental, produktif dan verbal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu: Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Di dalam faktor intern ada faktor jasmaniah, faktor psikologis, faktor kelelahan. Dan di dalam faktor ekstern ada faktor keluarga, faktor sekolah, faktor masyarakat.
Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi karakteristik Afektif siswa yaitu :
1.         Motivasi dan keutuhan
motivasi adalah bermaksud sebab, tujuan atau pendorong, maka tujuan seseorang itulah sebenarnya yang menjadi penggerak utama baginya berusaha keras mencapai atau mendapat apa juga yang diinginkannya sama ada secara negatif atau positif.

2.         Minat
Minat adlah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh . mengembangkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubunganantara materi yang diharapkan untuk mempelajarinya dengan dirinya sendiri sebagai individu. Dan belajar merupakansuatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa melihat bahwa kemajuan pada dirinya, kemungkinan besar ia akan berminat (dan bermotivasi) untuk mempelajarinya.

3.         Konsep diri dan Aspirasi,
Konsep diri merupakan persepsi keseluruhan yang dimiliki seseorang mengenai  dirinya sendiri. Aspirasi adalah harapan atau keinginan seseorang akan suatu keberhasilan atau prestasi tertentu. Sehingga aspirasi akan mengerahkan dan mengarahkan aktivitas siswa untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

4.         Kecemasan,
Kecemasan merupakan salah satu emosi yang paling menimbulkan stress yang dirasakan oleh banyak orang. Kadang-kadang kecemasan juga disebut dengan ketakutan atau perasaan gugup. Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan pada saat-saat tertentu, dan dengan tingkat yang berbeda-beda. hal tersebut mungkin saja terjadi karena individu merasa tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi hal yang mungkin menimpanya dikemudian hari.

5.         Sikap.
Sikap adalah Perilaku yg di miliki oleh seseorang dan tertanam sejak dini,yang mana perilaku tersebut berbeda-beda...!!

Buku ini dapat memberikan strategi dalam konsep pembelajaran dan dapat menjelaskan faktor apa saja yang dapat mempengaruhinya, dan semuanya ini dapat dirasakan sesuai dengan kehidupan yang kita rasakan, sehingga kita dapat mengetahui kekurangan belajar kita selama ini dan dapat memperbaiki cara belajar kita kedepannya.
Isi pembelajaran pada buku ini juga sangat tersetruktur sehingga para pembanca dapat mengerti, seperti contoh buku ini menjelaskan terlebih dahulu pengertian belejar, dan setelah ini menyebutkan faktor yang mempengaruhi dan menjelaskan karakteristik afektif siswa dalam pembelajaran.
Namun adakalanya seseorang memiliki cara belajar tersendiri, oleh karena itu buku ini akan sangat tidak cocok jika di baca oleh orang yang mempunyai cara belajar yang tidak teratur, dan santai. Karena dalam buku ini mengarah pada pembelajaran yang formal.
READ MORE => RESENSI BUKU NON FIKSI

LOVING MONEY TOO MUCH

There was a man who liked money very much. He worked all of his life and wanted to save all of his money for his own future. He was a real miser when it came to his money. He loved money more than just about anything.

Even, just before he died, he said to his wife; "Now listen, when I die, I want you to take all my money and place it in the casket with me. I wanna take my money to the afterlife." So he asked his wife to promise him with all her heart that when he died, she would put all the money in the casket with him.

Well, one day, he really died. Then he was stretched out in the casket. The wife was sitting there in black clothes next to her closest friend. When they finished the ceremony, just before the undertakers got ready to close the casket, the wife said "Wait just a minute!"

She had a box in her hands. She came over with the box and placed it in the casket. After that the undertakers locked the casket down and rolled it away. Not long after that, her friend said, "I hope you were not crazy enough to put all that money in the casket."

The wife turned to her friend and replied; "Yes, because I have promised." Then she continued; "I can't lie. I promised him that I was going to put that money in that casket with him." Feeling shocked, her friend said; "You mean that you have put every cent of his money in the casket with him?" Then the wife answered; "Surely I did. I got it all together, put all the money into my account and I just wrote him a check."
READ MORE => LOVING MONEY TOO MUCH

GREEN CANYON AND HOME INDUSTRI TRAVELING

Price : Rp. 20.000.000
Including :
  • Hotel ( 2 days 1 night)
  • Transportation ( Full AC bus)
  • Tickets (all places)
  • Meal (lunch, breakfast, dinner for 2 days)
  • Local guide
Traveling trips:
Going from travel agency morning at 08.00 am to home industry place until evening. Then go to hotel for rest until next day. For second day we will go to green canyon then batu karas beach and last go to batu hiu beach until vening.





Home Industry
To experience the home industry, we will visit the people and see what they do for living first, you will see the production of palm sugar which villager known as trapper. To climb coconut tree more than 30 times a day just to get a small a mount of the coconut sap to product the palm sugar.
Then we will go to a kerupuk factory and also a black smith (knife maker) where high quality still made by hand with simple equipment, as we travel though the villages, we will show the various types of plant that there as so common in tropical countries.

GREEN CANYON
After home industry we will take tour in comfortable boat along the canyon river. The water is crystal colors and we have chance to swim under waterfall from stalactites and tree roots above, we also can climb along high rocks, along the steeply sloping side of river bank.

We leave the green canyon to go to batu karas beach. After we have lunch we can enjoy a beautiful panorama in peaceful area, it’s also possible that we can buy a fish and have a barbeque on the beach, is a relaxed fishing village with a surfing beach.


On the way back to home we will pass a bamboo where we can walk there and also we will visit batu hiu beach. There a recreation park top the cliff and relaxed with view along the coast.







Further Information:

Our Travel Agency Office
Kidang Pananjung streets 2nd
Phone  : 0265-630799
Email : our_travel@yahoo.com



READ MORE => GREEN CANYON AND HOME INDUSTRI TRAVELING

PENTINGNYA HARDSKILL DAN SOFTSKILL

"Soft Skills" Dalam Dunia Pendidikan

Ujian Nasional (UN) masih menjadi pemicu dalam masalah pendidikan kita, padahal kita sudah melaksanakan UN ini selama enam tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk dapat mengevaluasi dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Seyogianya kita belajar dan kemudian memperbaiki kesalahan yang sudah-sudah. Tetapi apa yang terjadi? Masih belum ada perubahan signifikan. Keprihatinan masih terus terjadi dan banyak diberitakan media. Dan yang menjadi titik sentral sorotan adalah guru yang menjadi korban suatu sistem yang dirasa masih salah. Selayaknya kita mulai membuka mata dan hati kita untuk kepentingan masyarakat dan bangsa yang kita cintai ini.
Seperti fenomena UN tahun 2009 ini, nilai UN di tingkat SD, SMP, dan SMA meningkat sangat tajam ke arah angka yang fantastis. Apakah hasil itu dapat mencerminkan pendidikan kita yang sudah sangat baik? Ada semacam kekhawatiran, pendidikan kita sudah bergeser fungsinya sehingga jauh dari apa yang kita harapkan.
Banyak faktor memengaruhi keberhasilan pendidikan dan banyak aspek yang harus kita lihat sebagai indikator keberhasilan pendidikan kita, di antaranya aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun, pendidikan di negera kita ini masih berorientasi pada pendidikan berbasis hard skills semata yang lebih bersifat mengembangkan intelligence quotient (IQ), kurang mengembangkan kemampuan soft skills yang tertuang dalam emotional intelligence (EQ) dan spiritual intelligence (SQ). Dalam implementasi kurikulum pembelajaran di berbagai sekolah bahkan di perguruan tinggi, pendidikan masih lebih banyak menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. Tidak mengherankan jika hanya UN yang sering dijadikan acuan dalam keberhasilan siswa, padahal ini sangat keliru.
Kita lihat lebih detail, apa yang dimaksud dengan hard skills dan soft skills. Hard skills merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sementara itu, soft skills adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal (Dennis E. Coates, 2006). Manakah yang paling penting di antara keduanya? Jawabannya keduanya sama-sama penting, yang memang tidak bisa dipisahkan untuk menuju kesuksesan karier seseorang.
Selama ini disinyalir terjadi kesenjangan antara dunia pendidikan tinggi dan dunia kerja. Perguruan tinggi memandang lulusan yang mempunyai kompetensi tinggi adalah mereka yang lulus dengan nilai tinggi, sedangkan berkompetensi tinggi dalam dunia kerja adalah mereka yang mempunyai kemampuan teknis dan sikap yang baik. Banyak kalangan industri mengeluhkan lulusan sekarang yang kurang memiliki soft skills seperti integritas, inisiatif, motivasi, etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, dan lainnya. Setiap profesi dituntut mempunyai hard skills yang khusus. Akan tetapi, soft skills bisa merupakan kemampuan yang harus dimiliki setiap profesi.
Dengan melihat fenomena tersebut, pendidikan yang hanya berbasiskan hard skills kini tidak relevan lagi. Sekarang, pembelajaran juga harus berbasis pada pengembangan soft skills. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skills), tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skills). Sering kita jumpai orang-orang yang sukses atau berhasil disebabkan lebih banyak didukung soft skills daripada hard skills.
Sebenarnya, dalam kurikulum KTSP berbasis kompetensi dituntut muatan soft skills. Namun, implementasi dari kurikulum tersebut tidaklah mudah, sebab banyak tenaga pendidik kurang paham dengan soft skills dan cara mengimplementasikannya. Hal ini disebabkan soft skills lebih mengarah pada ketrampilan psikologis. Oleh karena itu, dampak yang diakibatkan tidak bersifat kasat mata namun tetap bisa dirasakan. Keabstrakan kondisi itu mengakibatkan soft skills tidak mampu dievaluasi secara tekstual karena indikator-indikator soft skills lebih mengarah pada proses eksistensi seseorang dalam kehidupannya.
Beberapa universitas mengembangkan soft skills menggunakan berbagai pendekatan. Misalnya, program "mahasiswa unggul" atau "pengembangan kewirausahaan mahasiswa". Kini, saatnya stakeholder pendidikan mengembangkan pendidikan/pembelajaran berbasis hard skills dan soft skills. Hal ini sangat penting dan mendesak sebab di negara ini banyak orang yang pandai, tetapi sebagian pikiran liarnya hanya untuk memikirkan kepentingan pribadi dan membodohi rakyat. Dengan diterapkannya hard skills dan soft skills kelak akan menghasilkan generasi yang cerdas, jujur, berakhlak mulia, bermoral, beriman, bertakwa, berbudi pekerti, beretika, sopan santun, dan peduli terhadap sesama manusia maupun lingkungan.
Merupakan suatu anugerah yang tidak terkira, jika bangsa ini dipimpin dan dihuni orang-orang yang memiliki kecerdasan hard skills (IQ) dan soft skills (EQ dan SQ) yang mumpuni. Mari kita terapkan bersama pola pendidikan yang tidak mengabaikan soft skills. Ingat! Pendidikan garda terdepan merupakan kunci kesuksesan pembangunan bangsa dan negara. Pengembangan soft skills di dalam dunia pendidikan, mau tidak mau menjadi suatu keniscayaan. Dengan demikian, semua stakeholder dalam dunia pendidikan harus ikut serta dalam program pengembangan soft skills ini.***

Menjadi Pribadi Yang Utuh Dengan Menguasai Hard skill dan Soft skill

Pendidikan memiliki dimensi yang luas dan banyak mengisi ruang-ruang kehidupan manusia. Pendidikan dapat memasuki dari berbagai macam sendi-sendi kehidupan dari hal yang bersifat teoritik, konseptual sampai dengan praktik yang lebih khusus. Dalam ruang lingkup kehidupan sehari-hari pun kita senantiasa mendapati keberadaan ataupun pengejawantahan pendidikan, mulai dari keluarga sampai dengan lingkungan disekitar kita.
Keluarga menjadi tempat pertama dimana pendidikan ditanamkan, dan seorang anak manusia bersinggungan dengan pendidikan. Keluarga menjadi pondasi diletakkannya dasar-dasar pendidikan. Pondasi tempat bertumpu bangunan-bangunan pendidikan. Pendidikan yang tertanam kuat dalam diri seorang anak dari keluarganya akan dibawa dan melandasi proses pendidikan selanjutnya.
Proses pendidikan atau lebih tepatnya belajar tidak akan berhenti, tetapi secara berkelanjutan sampai sepanjang hayat seorang anak. Oleh karena itu haruslah dipersiapkan dengan dasar-dasar pondasi yang kuat, agar kelak diperoleh “bangunan” pendidkan yang kuat diatasnya. Sebagaimana sebuah rumah jika pondasinya kokoh maka bangunan diatasnya sekalipun dibangun bertingkat-tingkat akan tetap kuat. Tapi sebaliknya jika pondasi yang ditamankan lemah maka bukan tidak mungkin bangunan diatasnya akan mudah roboh.
Dahulu pondasi pendidikan lebih banyak diberikan oleh orang tua secara langsung, tapi sekarang hal tersebut berkembang dalam penanganan dan pengelolaan lembaga-lembaga publik. Terutama diperkotaan pendidikan keluarga yang dulunya dikelola oleh keluarga atau kerabat atau saudara yang bersifat privat mulai beralih pada ruang yang publik, seperti Pendidikan Anak Usia Dini, penitipan bayi plus dan sejenisnya. Pendidikan yang dikelola oleh lembaga-lembaga tersebut menjadi pilihan orang tua yang memandang penting untuk memberikan pondasi bagi anak.
Pendidikan yang diberikan kepada anak-anak sejak dini oleh lembaga-lembaga tersebut memberikan bekal kecakapan kepada anak, bagi pada kemampuan menggambar, mewarna (kecakapan teknis) sampai dengan kemampuan dan keberanian berinteraksi sosial dengan lingkungan yang lebih beragam. Selain itu pula sejak dini mulai ditanamkan kreativtas, kemampuan beradaptasi dan sikap mandiri yang menjadi tumpuan bagi anak untuk melangkah pada jenjang selanjutnya. Hasilnya adalah seorang anak yang memiliki kecakapan hidup yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan dalam kehidupan bermasyarakat . Dengan kata lain, sejak dini sudah mulai ditanamkan semangat kecakapan hidup (life skill) kepada anak-anak.
Meskipun hanya kemampuan dasar yang dimiliki seorang anak, hal tersebut tidak mengurangi arti penting dan justru menjadi pendukung bagi seorang anak untuk lebih cakap dalam hidup. Brolin (1989) menjelaskan bahwa, “Life skills constitute a continuum of knowledge and aptitude that are necessary for a person to function effectively and to avoid interruptions of employment experience”. Menghadapi hidup yang tidak semata-mata dibutuhkan kemampuan tertentu, tetapi mensyaratkan kemampuan dasar dan secara fungsional seperti : membaca, menulis, sampai dengan memecahkan masalah, mengelola sumber daya, bekerja dalam tim, terus belajar di tempat kerja, mempergunakan teknologi (Satori, 2002). Oleh karenalah life skill bisa dimaknai sebagai kecakapan untuk hidup.
Memang pendidikan kecakapan hidup (life skills) lebih luas dari sekedar keterampilan bekerja, apalagi sekedar keterampilan manual. Pendidikan kecakapan hidup merupakan konsep pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan warga belajar agar memiliki keberanian dan kemauan menghadapi masalah hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya.
Secara perkembangannya, life skill dapat dikelompokkkan dengan beberapa indikator yaitu kecakapan mengenal diri atau kecakapan individu, kecakapan sosial, dan keterampilan teknis vocational skill, dalam penerapan pembelajaran menurut Jecques Delor dilandasi dengan empat pilar pembelajaran yaitu, learning to know (belajar untuk memperoleh pengetahuan), Learning to do (belajar untuk bekerja), Learning to be (belajar untuk menjadi orang yang berguna) dan Learning to live together (belajar untuk dapat hidup bersama dengan orang lain).
Tantangan dunia pendidikan, Menurunnya kemampuan (degradasi) dalam sendi pendidikan bukanlah hanya terjadi di Indonesia atau di negara-negara berkembang lainnya. Hal ini dibuktikan dengan studi secara mendalam oleh dua guru besar ekonomi, Richard J.Murname dari Harvard University dan Frank Levy dari MIT. Studi yang dilakukan di Honda of American Manufacturing (HAM) dan di Industri Motorola, hasilnya sebagaimana yang dimuat dalam bukunya ‘Teaching The New Basic Skills’ (1996). Didalamnya memuat bukti bahwa meskipun di Amerika Serikat kemampuan rata-rata matematik anak usia 9 tahun telah meningkat dari skor 219 pada tahun 1982 menjadi 230 pada tahun 1992, dan anak usia 17 tahun mempunyai skor 289 pada tahun 1982 menjadi 307 pada tahun 1992 untuk anak usia 17 tahun, tetap saja terjadi fenomena degradasi ijazah sebagaimana dikemukakan di atas.


Degradasi ijazah ini mengakibatkan penurunan imbal jasa tenaga kerja lulusan setingkat SMA pada masa kini dibandingkan dengan lulusan SMA pada masa lampau. Inti dari studi ini menekankan betapapun prestasi siswa ditingkatkan tetap saja akan muncul permasalahan yang disebabkan oleh lambannya gerak maju dunia pendidikan pada satu sisi dan semakin cepatnya pergerakan kemajuan ekonomi disisi lain.
Menurut dua guru besar tersebut yang diperlukan adalah bagaimana mempercepat kemajuan dunia pendidikan dalam arti yang utuh dan hakiki, lewat reformasi pendidikan yang mendasar sehingga memungkinkan pendidikan berkembang dengan cepat, tidak sekedar meningkatkan kemampuan daya serap materi pelajaran sebagaimana ditunjukkan dengan skor hasil tes. Ditambahkan oleh Murname dan Levy, diperlukan reformasi dalam dunia dengan menetapkan skill dasar yang harus dikembangkan pada diri setiap peserta didik. Skill dasar yang meliputi, pertama : The hard skills, yang mencakup dasar-dasar matematik, problem solving, kemampuan membaca yang jauh lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan yang ada sekarang ini. Kedua, The soft skills, yang meliputi kemampuan bekerja sama dalam kelompok dan kemampuan untuk menyampaikan ide dengan jelas baik dengan lisan maupun tulis. Selajutnya yang ketiga adalah kemampuan memahami bahasa komputer yang sederhana, seperti seperti word processor.
Pendidikan yang lebih menyeluruh dan utuh. Pendidikan pada hakekatnya diarahkan untuk membentuk sumber daya manusia yang seutuhnya. Walaupun pada imprementasinya lebih mengutamakan pada sisi kognitif dengan yang hasilnya dapat dan mudah diukur dengan perolehan NEM pada sistem evaluasi secara nasional, sehingga diketahui secara umum kemampuan peserta didik.
Jika kita memperhatikan bahwa tidak ada yang salah jika saran dari kedua guru besar di atas yang menekankan skill pada tiga aspek, yang tidak hanya pada sisi kognitif (hard skill), tapi juga soft skill (emosi, sosial). Dalam dunia pendidikan kita, sudah terbiasa melihat siswa yang memiliki NEM tinggi untuk suatu mata pelajaran itu tidak berarti siswa telah menguasai pelajaran tersebut secara utuh.
Demikian pula, asumsi yang melekat pada guru bimbingan dan konseling ditambah guru agama serta guru PPKN diasumsikan mengemban tugas untuk mengembangkan sosial dan emosi siswa, sedangkan, guru-guru mata pelajaran yang lain,seperti matematika, fisika, ekonomi, bertugas untuk mengembangkan intelektual siswa.
Pecahan-pecahan dua hal ini menjadi sesuatu serpihan yang tidak menyatu secara utuh pada diri siswa. Jadi, tapa bermaksud untuk membuat kesimpulan akhir dari semua proses dalam tantangan pendidikan kita, bahwa yang semestinya secara hakekat peran pendidikan untuk mencetak pribadi yang utuh belum terwujud.
Oleh karena itu perlu integrasi antara aspek kognitif dan emosional yang menekankan pada peranan konteks sosial dan hubungan antar pribadi, dimana proses di sekolah dikaitkan dengan proses yang terjadi diluar sekalah. Baxter Magolda (dalam Knowing and Reasoning in College: Gender-Related Patterns in Students’ Intellectual Development, 1995) menekankan bahwa ketiga aspek pendidikan tersebut, intelektual, sosial dan emotional harus merupakan satu kesatuan yang terintegrasi. Goleman dalam buku ‘Emotion intelligence’ (Sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia, 1995) juga menekankan betapa proses learning sangat ditentukan oleh emosi, yang dapat merangsang motivasi.
Pribadi holistik yang cakap dalam hidup, Untuk mengembagkan diri sudah bukan barang tentu suatu proses yang memerlukan keaktifan dari pesrta didik dalam proses belajar dan guru bukan lagi sebagai sumber tunggal. Dominasi guru melalui ceramah yang menuai banyak kritik melahirkan ide teori pendidikan pembebasan oleh Fraire. Teori Construktivist oleh Brook dan Brooks, Cultural Perspective oleh Rhoads dan Black, Collaborative Learning oleh Bruffee. Dengan teori Teori-teori pembelajaran baru ini dimaksudkan untuk menyempurnakan proses belajar mengajar yang bersifat monolitik dan steril dari peristiwa-peristiwa yang berlangsung di luar sekolah, sebagaimana yang dipraktekan di dunia sekolah dewasa ini, dengan memasukan unsur-unsur realitas sosial dan emosi dalam proses pembelajaran.
Dengan masuknya unsur baru yang lebih memdekatkan peserta didik dengan realitas yang dihadapinya, melalui pengalaman yang di peroleh secara langsung dan mencari solusi terhadap problem yang dihadapi dalam keseharian menjadikan peserta didik lebih siap dan cakap dalam hidup dan mampu mengembangkan diri dengan aktif dan kreatif menjadi pribadi yang utuh.
Peran lembaga pendidikan Teori Pembebasan Freire menekankan pada prinsip bahwa sistem budaya masyarakat merupakan sumber kekuatan warga masyarakat dimana warga masyarakat itu hidup. Dan peran guru dalam teori ini adalah menyediakan wahana belajar yang kondusif yang memungkinkan peserta didik untuk berproses dalam belajarnya dan bertanggung jawab dalam proses tersebut. Dengan demikian siswa mampu memperoleh pemahaman yang tidak saja dapat diterapkan dalam ruang kelas tapi juga menjawab persoalan diluar sekolah.
Teori Constructivist membantu siswa untuk menjadi pribadi yang secara aktif dan mandiri dengan pemahaman yang terintegrasi dan mampu mencari solusi persoalan dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang penting. Dalam pekembangannnya teori ini menjadi sebuah teori pembelajaran yang efektif. Dengan pembelajaran yang kolaboratif, memadukan aktivitas intelektual, sosial dan emosional (hard skill dan soft skill) secara dinamis baik pada guru maupun siswa. Dengan demikian pencarian dan pengembangan pengetahuan adalah proses aktivitas sosial, dimana siswa sebagai pelaku utamanya.
Untuk itu peran lembaga pendidikan sangat diperlukan guna mengeser kultur pembelajaran yang lebih banyak didominasi guru, dan mengarahkannya untuk mengembangkan budaya pembelajaran yang utuh, yang didalamnya mengemban amanat untuk melaksanakan dan mengembangkan visi pendidikan yang jelas, melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, mengembangkan masyarakat pembelajaran, menjadi pelopor munculnya iklim belajar di manapun juga, dan secara sadar mengembangkan proses sosialisasi profesional baik di kalangan guru ataupun siswa.
Dengan demikian, perubahan dan pengembangan pendidikan diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, menciptakan lingkungan yang mendorong siswa untuk ambil peran, mendorong dan menghargai inisiatif siswa, dan memberikan insentif bagi keterlibatan siswa. Sehingga siswa memiliki kematangan baik Hard skills maupun soft skilsl (Kematangan intelektual, sosial, dan emosi)

READ MORE => PENTINGNYA HARDSKILL DAN SOFTSKILL

6 CARA MENGASAH KEMAMPUAN BERFIKIR STRATEJIK

HOW TO THINK STRATEGICALLY ?
Sebuah tulisan yang menarik dari blog Michael Watkins di Harvard Business Publishing. Bagaimana kita bisa mengasah cara berpikir supaya bisa berpikir stratejik atau think strategically ? Menurut Michael Watkins, ada 6 cara, yaitu :
1.      IMMERSION.
Dengan berganti suasana baru, kita harus berpikir keras untuk berpikir menyesuaikan diri dengan cepat. Hal ini mampu merangsang kita untuk berpikir lebih jauh untuk mencari kesamaan pola dalam pekerjaan, dan inilah berpikir stratejik.
2.      APPARENTICESHIPS.
 Ibarat belajar silat, jika kita terus mengikuti sang guru ke mana saja, maka kita bisa belajar banyak darinya. Begitu juga jika mengikuti sang business hero, maka kita juga mampu ketularan berpikir stratejik.
3.      SIMULATIONS.
Dengan simulai kita bisa melihat cause-effect dari berbagai fenomena, melihat suatu sistem secara holistik, dan inilah jalan untuk berpikir strategis.
4.      GAME-THEORY TRAINING.
Ini masalah aksi-reaksi dalam kehidupan, termasuk dalam berbisnis. Bagaimana memperkirakan langkah tandingan dari lawan sebagai counter terhadap langkah kita. Inilah aspek dinamis dari strategi, dan memaksa kita untuk berpikir stratejik.
5.      CASE-BASED EDUCATION.
 Dengan belajar memecahkan kasus, kita bisa belajar seolah-olah sedang menjadi ahli strategi atau top decision maker pada sebuah organisasi untuk memecahkan masalah. Ini juga akan mengasah kemampuan berpikir stratejik.
6.      COGNITIVE RESHAPING.
Mempertajam kemampuan kognitif, tidak hanya berpikir linier, melainkan juga dinamis, holistik, dan sistemik, akan membawa kita kepada kemampuan berpikri stratejik yang baik.



READ MORE => 6 CARA MENGASAH KEMAMPUAN BERFIKIR STRATEJIK

PENGERTIAN DAN MACAM-MACAM ANALOGI

1. Pengertian Analogi

Analogi dalam bahasa Indonesia adalah kias (Arab: Qasa=mengukur, membandingkan). Analogi adalah suatu perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara membandingkannya dengan gagasan lain yang mempunyai hubungan dengan gagasan yang pertama. Sedangkan dalam kitab Imam Ghozali disebutkan
قياس بيان المعانى المفردة ووجوه دلا لة الاءلفاظ عليها
Berbicara mengenai analogi adalah berbicara tentang dua hal yang berlainan. Dua hal yang berlainan tersebut dibandingkan. Jika dalam perbandingan itu hanya diperhatikan persamaannya saja tanpa melihat perbedaannya, maka timbullah analogi, yakni persamaan di antara dua hal yang berbeda.
Analogi merupakan salah satu teknik dalam proses penalaran induktif. Sehingga analogi kadang-kadang disebut juga sebagai analogi induktif, yaitu proses penalaran dari satu fenomena menuju fenomena lain yang sejenis kemudian disimpulkan bahwa apa yang terjadi pada fenomena yang pertama akan terjadi juga pada fenomena yang lain. Persamaan hanya terdapat pada anggapan orang saja. Ini dalam kesusastraan disebut sebagai metafora. Oleh karena orang yakin bahwa sebetulnya memang hanya anggapan saja, kerap kali dipakai kata seakan-akan atau seolah-olah. Yang demikian ini bukanlah analogi sebenarnya, hanya seolah-seolah. Bisa dikatakan analogi jika pengertian itu menunjuk perbandingan dalam realitas.
Analogi, pertama kali dipakai oleh para sahabat ketika mereka berselisih pendapat dalam pemilihan Abu bakar sebagai Khalifah. Dalam hukum Islam, analogi disebut sebagai Qiyas. Para sahabat menyetujui penggunaan analogi. Demikian juga para Fuqaha. Masalah analogi telah menyebabkan banyak sekali pertentangan. Pengaturan mengenai penggunaan analogi dalam pembuatan pertimbangan hukum merupakan salah satu sebab yang menimbulkan perbedaan pendapat yang tajam antar sesama Fuqaha.


2 .Macam-Macam Analogi
A, analogi induktif

Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat  bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan. Misalnya, Tim Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.
B. Analogi Deklaratif
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai. Misalnya, untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.

3. Cara Menilai Analogi
Untuk menguji apakah analogi yang dihasilkan cukup kuat untuk dipercaya, dapat kita gunakan analisa berikut:
a.       Sedikit banyaknya peristiwa sejenis yang dianalogikan.
Semakin banyak peristiwa sejenis yang dianalogikan, semakin besar taraf kepercayaannya. Misalnya, suatu ketika saya mengambil mata kuliah Logika dengan dosen bapak Faizin dan ternyata beliau murah hati dalam memberikan nilai kepada mahasiswanya, maka atas dasar analogi, saya bisa menyarankan kepada teman saya, si B, untuk memilih bapak Faizin sebagai dosen mata kuliah logikanya. Analogi saya menjadi lebih kuat setelah B juga mendapat nilai yang memuaskan dari bapak Faizin. Analogi menjadi lebih kuat lagi setelah ternyata C, D, E, dan F juga mengalami hal serupa.
b. Semakin banyak aspek yang menjadi dasar analogi, semakin besar taraf kepercayaannya. Misalnya, tentang flashdisk yang baru saja saya beli di sebuah toko A. Bahwa flashdisk yang baru saya beli tentu akan awet dan tidak mudah terserang virus karena flashdisk yang dulu dibeli di toko A juga demikian. Analogi menjadi lebih kuat lagi misalnya diperhitungkan juga harganya, mereknya, dan kapasitasnya.
c. Sifat dari analogi yang kita buat.
Semakin rendah taksiran yang dianalogikan, semakin kuat analogi itu. Misalnya, Ahmad yang duduk di kelas unggulan di SLTP Harapan Bangsa dapat menyelesaikan 50 soal matematika dalam waktu 60 menit. Kemudian kita menyimpulkan bahwa Olivia, teman satu kelas Ahmad juga akan bisa menyelesaikan 50 soal matematika dalam waktu 60 menit, analogi demikian cukup kuat. Analogi ini akan lebih kuat jika kita mengatakan bahwa Olivia akan menyelesaikan 50 soal matematika dalam waktu 50 menit, dan menjadi lemah jika kita mengatakan bahwa Olivia akan menyelesaikan 50 soal matematika dalam waktu 75 menit.
d. Semakin banyak pertimbangan atas unsur-unsurnya yang berbeda, semakin kuat analogi itu. Misalnya, kita menyimpulkan bahwa Fahri adalah mahasiswa yang pandai karena dia berhasil menjadi delegasi untuk dikirim ke Mesir. Analogi ini menjadi lebih kuat jika dipertimbangkan juga perbedaan yang ada pada para delegasi sebelumnya, A, B, C, D dan E yang mempunyai latar belakang yang berbeda dalam ekonomi, pendidikan SLTA, keluarga, daerah, pekerjaan orang tua, toh kesemuanya adalah mahasiswa yang pandai.
e. Relevan dan tidaknya masalah yang dianalogikan.
Bila masalah yang dianalogikan itu relevan, maka semakin kuat analogi itu. Bila tidak, analoginya tidak kuat dan bahkan bisa gagal. Analogi yang relevan biasanya terdapat pada peristiwa yang mempunyai hubungan kausal. Misalnya, kita tahu bahwa sambungan rel kereta api dibuat tidak rapat untuk menjaga kemungkinan mengembangnya. Bila kena panas, rel tetap pada posisinya. Maka ketika hendak membangun rumah, kita menyuruh tukang untuk memberikan jarak pada tiap sambungan besi pada rangka rumah. Disini kita hanya mendasarkan pada suatu hubungan kausal bahwa karena besi memuai bila kena panas, maka jarak yang dibuat antara dua sambungan besi akan menghindarkan bangunan dari bahaya melengkung.

4. Kesesatan Analogi
Disamping faktor-faktor tersebut di atas, yang bisa disebut faktor-faktor obyektif, juga ada faktor-faktor subyektif, yang mempengaruhi tinggi rendahnya probabilitas analogi. Faktor subyektif itu terletak pada diri manusia yang berpikir dan berupa kondisi-kondisi tertentu, yang bersifat pribadi dan tidak disadari.
Kesalahan dalam membuat analogi bisa terjadi karena beberapa hal. Pertama, tergesa-gesa, yaitu terlalu cepat menarik konklusi, sedang fakta-fakta yang dijadikan dasarnya tidak cukup mendukung konklusi itu. Kedua, kecerobohan, kesimpulan yang ceroboh terjadi karena mengabaikan adanya faktor-faktor analogi yang penting. Ketiga, prasangka, prasangka membuat orang tidak mengindahkan fakta-fakta yang tidak cocok dengan konklusi. Keempat, memaksa, menjadikan ide agar terlihat benar dengan cara membandingkannya dengan ide lain yang sesungguhnya tidak mempunyai hubungan dengan ide yang pertama tadi.
Analogi yang pincang karena hal-hal tersebut di atas amat banyak digunakan dalam perdebatan maupun dalam propaganda untuk menjatuhkan pendapat lawan maupun mempertahankan kepentingan sendiri. Karena sifatnya seperti benar, analogi ini sangat efektif pengaruhnya terhadap pendengar.
  1. Analisis Kritis
Secara umum, analogi merupakan proses penalaran dengan cara mencari persamaan di antara dua hal yang berbeda. Analogi banyak dimanfaatkan sebagai penjelasan atau sebagai dasar penalaran. Sebagai penjelasan biasanya disebut perumpamaan atau persamaan. Secara tidak sadar, sebenarnya kita sangat sering menggunakan analogi. Tidak sedikit orang yang menggunakan analogi dalam memberikan penjelasan, karena dengan analogi maksud dan tujuan lebih mudah untuk diterima. Begitu juga dalam pembelajaran. Seringkali pendidik menggunakan analogi dalam menyampaikan pelajaran kepada peserta didik.
Sebelum saya menyusun makalah ini, saya kurang menyadari akan penggunaan analogi yang kerap kali digunakan. Kemudian ketika saya menyusun makalah berjudul Analogi ini, saya menjadi lebih tahu mengenai analogi dan macam-macamnya. Semenjak itulah saya mencoba memperhatikan dosen-dosen saya dengan seksama ketika mereka berbicara, menjelaskan materi kuliah, ternyata tidak sedikit dosen yang menggunakan analogi.
Setelah jauh memahami analogi ternyata tidak semua analogi itu bisa diterima atau dipercaya begitu saja. Oleh karena analogi ini banyak dimanfaatkan dalam sebuah penjelasan dan sangat efektif pengaruhnya terhadap pendengar, maka perlu diketahui mana analogi yang sesuai aturan dan mana analogi yang timpang. Analogi yang timpang, dalam beberapa buku disebut sebagai analogi palsu atau kesesatan analogi atau analogi yang pincang. Kekeliruan dalam analogi disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor subyektif maupun faktor obyektif. Faktor subyektif itu terletak pada diri manusia yang berpikir dan berupa kondisi-kondisi tertentu, yang bersifat pribadi dan tidak disadari. Misalnya karena tergesa-gesa, kecerobohan, prasangka, atau terlalu memaksakan dalam membuat analogi. Sedangkan faktor obyektifnya ada beberapa macam. Faktor obyektif ini dapat digunakan sebagai alat ukur probabilitas suatu analogi. Pertama, Sedikit banyaknya peristiwa sejenis yang dianalogikan. Kedua, Sedikit banyaknya aspek-aspek yang menjadi dasar analogi. Ketiga, Sifat dari analogi yang kita buat. Keempat, Mempertimbangkan ada tidaknya unsur-unsur yang berbeda pada peristiwa yang dianalogikan. Kelima, Relevan dan tidaknya masalah yang dianalogikan.
Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut maka bisa diketahui apakah analogi yang dihasilkan cukup kuat untuk dipercaya atau malah sebaliknya, analogi yang dihasilkan adalah analogi yang pincang.
Akhirnya, perlu diketahui bahwasanya pengetahuan mengenai analogi penting untuk dikaji dalam rangka menghindari kekeliruan dalam membuat analogi. Karena analogi yang salah bisa menyebabkan pemahaman yang salah terhadap fenomena yang dianalagikan. Analogi yang pincang amat banyak digunakan dalam perdebatan maupun dalam propaganda untuk menjatuhkan pendapat lawan maupun mempertahankan kepentingan sendiri. Karena sifatnya seperti benar, analogi ini sangat efektif pengaruhnya terhadap pendengar.


READ MORE => PENGERTIAN DAN MACAM-MACAM ANALOGI

APA ITU LOGIKA

Arti dan Batasan Logika
Logika adalah berasal dari bahasa Latin dari kata “logos” yang berarti perkataan atau sabda. Istilah lain sebagai padanannya adalah “Mantik” bahasa Arab yang diambil dari kata kerja  نطق yang berarti berkata atau berucap. Kita sering menggunakan ka- ta logis yang berarti masuk akal’ dan tidak logis artinya tidak masuk akal.

Dalam buku Logic and Language of Education mantik disebut sebagai “penyelidik- kan tentang dasar-dasar dan metode-metode berpikir benar”.Dalam kamus Mun- jid disebut sebagai “Hukum yang memelihara hati nurani dari kesalahan  menggerakkan pikiran kepada jalan yang lurus dalam memperoleh kebenar an”. Irving M. Copi mengatakan “Logika adalah ilmu yang mempelajari metode-metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah”.Ada pula yang bendapat“Logika adalah Ilmu dan Kecakapan Berpenalaran’Berpikir dengan tepat ( The science and art of correct thinking). Pelopor ilmu logika adalah Aristoteles (384-322 sM).

        Berpikir

Berpikir ditunjukkan suatu bentuk kegiatan akal yang yang khas dan terarah.Se- mentara berpikir itu adalah”Berbicara dengan diri sendiri di dalam batin mempertimbangkan’  merenungkan’menganalisa; membuktikan sesuatu;  menunjukkan alasan-alasan; dan menarik simpulan”.

        Ilmu dan Pengetahuan

Walaupun sering digabung menjadi “ilmu pengetahuan”. Namun secara mendasar kedua kata tersebut memiliki arti yang berbeda.Ilmu padanannya “ science” dan   pengetahuan “knowledge”. Pengetahuan adalah hasil dari aktivitas mengetahui’ yakni tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa hingga tidak ada keraguan terhadapnya. Sedangkan ilmu dirumuskan secara sederhana adalah “Suatu kumpulan pengetahuan mengenai bidang tertentu yang merupakan suatu kesatuan yang tersusun dengan sistematis serta memberikan penjelasan yang dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan sebab-sebabnya”. Pertanyaan yang diajukan dalam setiap ilmu adalah  apa ?  bagaimana?   mengapa?.
                                                                                

        Arti Benar

Benar pada dasarnya adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan. Juga suatu pernyataan  dikatakan benar manakala tidak mengandung pertentanngan dari awal sampai akhir.  Pernyataan salah “ Ia adalah seorang jujur yang suka nipu “.Juga salah “ Semua orang Kauman muslim’ Budi orang Kauman’ maka Budi adalah katolik.


        Asas Berpikir

Ada tiga asas berpikir’ yakni :
1.   Asas Identitas: Asas ini menyatakan bahwa sesuatu itu dia sendiri bukan yang lain. Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu “A” maka ia adalah “A” bukan “B” atau yang lain selain “A”. Ringkasnya jika suatu pernyataan itu benar’ maka benarlah dia.
2.   Asas Kontradiksi: Asas ini menyatakan bahwa pengingkaran atas sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuan atasnya. Maksudnya jika kita mengakui bahwa susuatu itu bukan “A” tidak mungkin pada waktu yang sama kita  mengakui bahwa sesuatu itu adalah “A”.Ringkasnya tidak ada sebuah pernyata-an yang sekaligus benar dan salah.
3.   Asas penolakan  ketiga: Asas ini menyatakan bahwa antara pengakuan dan pe-ngingkaran kebenarannya terletak pada salah satunya. Maksudnya pengakuan  dan pengingkaran tidak mungkin kedua-duanya benar dan tidak mungkin ke- dua-duanya salah. Contoh pengakuan “ Ahmad pandai”. Dan contoh penging- kiran “ Ahmad tidak pandai”. Ringkasnya suatu pernyataan selalu dalam keadaan benar atau salah. ( Pernyataan dalam logika disebut  proposisi )          

         Cara Mendapatkan Kebenaran

            Ada dua cara untuk mendapatkan kebenaran yaitu metode induksi dan metode de-
            duksi. Contoh induksi :
                      Besi jika dipanaskan memuai
                      Seng jika dipanaskan memuai
                      Emas jika dipanaskan memuai
                      Jadi: Semua (Setiap) logam jika dipanaskan memuai.
                       
                      Contoh  deduksi:
                      Semua(Setiap) logam jika dipanaskan memuai
                      Besi adalah logam
                      Jadi: Besi jika dipanaskan memuai.

         Pembagian Materi Logika

            Materi logika ada tiga;
·         Pengertian
·         Hubungan antara pengertian –pengertian
·         Simpulan.

         Manfaat Logika

       Manfaat logika adalah:
1     Membantu manusia berpikir lurus’ efisien’ tepat dan teratur
2     Mendidik manusia bersikap obyektif ‘ tegas’ dan berani

            Macam-macam Logika

1     Dilihat dari kualitasnya logika dibedakan menjadi logika naturalis dan logika ilmiah.
2     Dilihat dari metodenya logika dibedakan menjadi logika tradisional dan logika modern

READ MORE => APA ITU LOGIKA